Markov Chain
MARKOV CHAIN
Perubahan yang ada di dalam kehidupan sehari-hari
sangat bervariasi. Ada perubahan yang bersifat statis namun ada juga yang
bersifat dinamis. Karena kehidupan yang terus berjalan, maka perubahan yang
terjadi memang tidak bisa dihindari. Acapkali perubahan itu juga berimbas pada
sebuah kerugian. Oleh karena itu, ada baiknya apabila dilakukan persiapan untuk
sebuah perubahan. Bagaimana caranya untuk menghadapi sebuah perubahan? Setiap
transisi yang terjadi dari waktu ke waktu perlu dicermati dengan baik. Salah
satu solusi yang relevan untuk situasi tersebut adalah dengan melakukan
prediksi akan apa yang terjadi di masa yang akan datang.
Contoh perubahan:
–
Prediksi perpindahan minat pada merk tertentu
–
Manajemen pengobatan diabetes
–
Pemantauan lalu lintas
Rantai Markov (Markov Chain) adalah sebuah teknik
perhitungan yang umumnya digunakan dalam melakukan pemodelan bermacam-macam
kondisi. Teknik ini digunakan untuk membantu dalam memperkirakan perubahan yang
mungkin terjadi di masa mendatang. Perubahan-perubahan tersebut diwakili dalam
variabel-variabel dinamis di waktu-waktu tertentu. Sehingga perlu untuk
menyimpan nilai dari variabel keadaan pada tiap-tiap waktu tertentu itu
I. Sejarah
Markov Chain
Model Rantai Markov ditemukan oleh seorang ilmuwan
Rusia bernama Andrey Andreyevich Markov pada tahun 1906.
“Untuk setiap waktu t, ketika
kejadian adalah Kt dan seluruh kejadian sebelumnya adalah Kt(j),…, Kt(j-n) yang
terjadi dari proses yang diketahui, probabilitas seluruh kejadian yang akan
datang Kt(j) hanya bergantung pada kejadian Kt(j-1) dan tidak bergantung pada
kejadian-kejadian sebelumnya yaitu Kt(j-2), Kt(j-3), …, Kt(j-n)”
Gambar
1. Andrey Andreyevich Markov
Markov berfokus pada perluasan hukum bilangan besar
dalam berbagai percobaan. Model ini berhubungan dengan suatu rangkaian proses
dimana kejadian akibat suatu eksperimen hanya tergantung pada kejadian yang
langsung mendahuluinya dan tidak tergantung pada rangkaian kejadian
sebelum-sebelumnya yang lain.
II. Analisa
Markov
Dalam kenyataannya, penerapan analisa Markov bisa
dibilang cukup terbatas karena sulit untuk menemukan permasalahan yang memenuhi
semua sifat yang diperlukan untuk analisa Markov, terutama persyaratan bahwa
probabilitas transisi harus konstan sepanjang waktu.
Proses Markov Chain terdiri dari dua prosedur, yaitu
menyusun matriks probabilitas transisi, dan kemudian menghitung kemungkinan
market share di waktu yang akan datang. Probabilitas transisi adalah sebagai
contoh pergantian yang mungkin dilakukan oleh konsumen dari satu merk ke merk
yang lain. Konsumen dapat berpindah dari suatu merk ke merk yang lain
disebabkan karena periklanan, promosi khusus, harga, ketidakpuasan, dan
lain-lain. Hal ini akan bermanfaat karena jumlah market share-nya di periode
yang akan datang akan bisa diperhitungkan sejak dini.
Metode ini banyak digunakan untuk pengambilan
keputusan, namun sebenarnya hanya memberikan informasi bagi pengambil keputusan
untuk memperbaiki keputusannya, bukan untuk memberi solusi.
Gambar
2. Rantai Markov
Langkah-langkah untuk menyelesaikan perhitungan
probabilitas pada periode waktu tertentu menggunakan rantai Markov adalah
sebagai berikut:
1.
Buatlah matriks transisi dari probabilitas yang
diketahui
2.
Lakukan operasi perkalian matriks dari probabilitas
waktu sebelumnya dengan matriks transisi. Rumusnya adalah: Matriks periode ke-n
= Matriks periode ke-n+1 * Matriks transisi
3.
Ulang proses yang sama sampai menemukan probabilitas
yang hendak dicari
Dalam perhitungan probabilitas yang terus berulang
tersebut, akan ditemui pada periode tertentu bahwa probabilitas hasil
perhitungan kedua matriks itu bernilai sama/tetap/tidak berubah apabila
dihitung untuk periode-periode selanjutnya. Kondisi ini disebut dengan probabilitas
keadaan tetap (steady state probability). Langkah yang dikerjakan untuk
menemukan steady state probability adalah sama seperti langkah untuk menghitung
probabilitas pada kondisi tertentu.
Nilai probabilitas pada periode-periode selanjutnya
setelah bertemu dengan steady state probability ini akan sama. Karenanya,
probabilitas ini bisa digunakan sebagai prediksi jumlah dalam keadaan tetap,
dengan cara mengalikan steady state probability dengan jumlah orang yang
terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi.
Permasalahan selanjutnya apabila perhitungan dilakukan
per periode, tentunya akan memakan waktu yang lama, karena contohnya saja
apabila steady state probability ada pada periode ke-15, maka harus dilakukan
perhitungan sebanyak 14 kali. Hal ini bisa diatasi dengan menghitung
probabilitas keadaan tetap secara langsung menggunakan persamaan.
Semua contoh perhitungan untuk semua penjelasan di
atas bisa dilihat pada bagian Case Study di bawah ini.
III. Case Study
Suatu survei dilakukan di sebuah wilayah di kota
Jakarta. Diketahui bahwa wilayah tersebut terdiri dari 1000 keluarga. Dari
survei tersebut, diperoleh data bahwa 600 keluarga merupakan pelanggan toserba
‘Serba’ dan 400 keluarga merupakan pelanggan toserba ‘Ada’. Pada bulan itu,
diketahui bahwa :
·
Dari 600 keluarga pelanggan toserba ‘Serba’ diperoleh
data bahwa 400 keluarga tetap berbelanja di toserba ‘Serba’ dan 200 lainnya
berbelanja di toserba ‘Ada’.
·
Dari 400 keluarga pelanggan toserba ‘Ada’ dinyatakan
bahwa 150 keluarga tetap berbelanja di toserba ‘Ada’. Sedang 250 lainnya
berbelanja di toserba ‘Serba’.
Hitunglah :
1.
Matriks probabilitas transisi untuk permasalahan di
atas!
2.
Probabilitas untuk toko “Serba” dan “Ada” pada bulan
ketiga apabila pada bulan pertama keluarga tersebut memilih untuk berbelanja di
toko “Serba”
3.
Probabilitas untuk toko “Serba” dan “Ada” pada bulan
ketiga apabila pada bulan pertama keluarga tersebut memilih untuk berbelanja di
toko “Ada”
4.
Nilai probabilitas pelanggan dalam keadaan tetap!
5.
Jumlah perkiraan pelanggan dalam jangka panjang untuk
masing-masing toserba tersebut!
Jawab:
a. Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk
menyelesaikan seluruh pertanyaan di atas adalah dengan menentukan matriks
transisi untuk menghitung nilai probabilitas
·
Probabilitas bulan pertama “Serba” dan bulan kedua
“Serba” = 400/600 = 0.667
·
Probabilitas bulan pertama “Serba” dan bulan kedua
“Ada” = 200/600 = 0.333
·
Probabilitas bulan pertama “Ada” dan bulan kedua
“Serba” = 250/400 = 0.625
·
Probabilitas bulan pertama “Ada” dan bulan kedua
“Serba” = 150/400 = 0.375
Sehingga matriks transisi yang diperoleh adalah:
Keterangan:
Baris pertama kolom pertama : Bulan pertama
“Serba”, bulan kedua “Serba”
Baris pertama kolom kedua : Bulan
pertama “Serba”, bulan kedua “Ada”
Baris kedua kolom pertama : Bulan
pertama “Ada”, bulan kedua “Serba”
Baris kedua kolom
kedua : Bulan pertama “Ada”, bulan kedua
“Ada”
b. Apabila pada bulan pertama, keluarga tersebut
memilih untuk berbelanja di toko “Serba” artinya keluarga tersebut pasti
memilih untuk berbelanja di toko “Serba”, jadi probabilitas keluarga tersebut
datang ke toserba “Serba” adalah 1, dan probabilitas keluarga tersebut datang
ke toserba “Ada” adalah 0.
Sehingga matriks probabilitas untuk bulan pertama
adalah [ 1 0]
Apabila dilakukan perkalian antara matriks
probabilitas pada bulan pertama dengan matriks transisi pada kasus ini maka
akan diperoleh data:
Probabilitas pada bulan kedua yang diperoleh memiliki
nilai yang sama dengan matriks transisi pada baris pertama. Tentu saja
demikian, karena perhitungan yang dilakukan adalah matriks pada bulan pertama
dengan matriks transisi yang dibentuk dari data probabilitas pada bulan kedua.
Kemudian, untuk menghitung probabilitas pada bulan
ketiga adalah dengan mengoperasikan perkalian matriks antara matriks
probabilitas bulan kedua dengan matriks transisinya. Sehingga diperoleh:
NB: Ingat bahwa jumlah probabilitasnya
harus selalu satu (1)
c. Apabila pada bulan pertama, keluarga tersebut
memilih untuk berbelanja di toko “Ada” artinya keluarga tersebut pasti memilih
untuk berbelanja di toko “Ada”, jadi probabilitas keluarga tersebut datang ke
toserba “Ada” adalah 1, dan probabilitas keluarga tersebut datang ke toserba
“Serba” adalah 0.
Sehingga matriks probabilitas untuk bulan pertama
adalah: [1 0]
Apabila dilakukan perkalian antara matriks
probabilitas pada bulan pertama dengan matriks transisi pada kasus ini maka
akan diperoleh data:
Jadi diperoleh probabilitas bulan ketiga, apabila pada
bulan pertama memilih di toko “Ada”, untuk toserba “Serba” adalah 0.651, dan
toserba “Ada” adalah 0.349
d. Menghitung probabilitas keadaan tetap bisa
dilakukan dengan melakukan operasi perhitungan persamaan sebagai berikut:
Persamaan 1:
Persamaan 2:
Karena jumlah probabilitas adalah satu maka Persamaan
3:
Dari ketiga persamaan tersebut, kita substitusikan
sehingga nilai probabilitas S dan A akan diperoleh. Probabilitas yang kita
peroleh itulah yang merupakan probabilitas keadaan tetap.
Dari persamaan 3, maka bisa dikonversikan menjadi
Substitusikan ke persamaan 1:
Substitusikan hasil nilai S tersebut ke dalam
persamaan 2:
Jadi probabilitas keadaan tetap (steady state) nya
adalah:
Toserba “Serba” = 0.652
Toserba “Ada” = 0.348
e. Jumlah perkiraan pelanggan dalam jangka panjang
bisa dihitung dengan mengalikan probabilitas keadaan tetap dengan jumlah total
pelanggannya
Toserba “Serba” = 0.652 * 1000 = 652 pelanggan
Toserba “Ada” = 0.348 * 1000 = 348 pelanggan













